Candi Singosari adalah salah satu peninggalan sejarah yang tak ternilai dari masa Kerajaan Singhasari, sebuah kerajaan Hindu-Budha yang pernah berjaya di Nusantara pada abad ke-13. Berdiri megah di Kabupaten Malang, Jawa Timur, candi ini menjadi saksi bisu kejayaan Raja Kertanegara dan keruntuhan dinasti Singhasari menjelang kemunculan Kerajaan Majapahit.

Yuk, telusuri jejak sejarah Candi Singosari dari awal pendirian, makna simbolik, hingga warisan budayanya yang terus lestari hingga kini.

Awal Berdirinya Candi Singosari pada Masa Raja Kertanegara

Candi Singosari merupakan peninggalan kerajaan Singhasari pada masa Raja kertanegara. Yuk, ketahui sejarah lengkap dan perkembangannya melalui artikel ini!

Candi Singosari atau Candi Singhasari berdiri pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, raja terakhir dari Kerajaan Singhasari. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1222 dan runtuh pada 1292 M. Candi ini dibangun sekitar akhir abad ke-13, diperkirakan setelah wafatnya Raja Kertanegara.

Menurut para arkeolog dan sejarawan, Candi Singosari dibangun sebagai tempat pemujaan sekaligus tempat penghormatan terhadap Raja Kertanegara yang gugur dalam serangan Jayakatwang dari Kediri. Dalam tradisi Hindu-Buddha, raja yang telah wafat kerap didharmakan (dipuja) sebagai dewa. Oleh karena itu, Candi Singosari dipercaya sebagai tempat pendharmaan Kertanegara sebagai perwujudan Dewa Siwa dan Buddha.

Lokasi Strategis dan Arsitektur pada Candi Singosari

Candi Singosari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasinya yang berada di jalur utama antara Malang dan Surabaya membuat candi ini cukup mudah terjangkau dan menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik.

Secara arsitektural, Candi Singosari mencerminkan perpaduan gaya arsitektur Hindu dan Budha yang khas dari era Singhasari. Candi ini memiliki struktur utama setinggi sekitar 15 meter, berdiri di atas kaki candi yang berbentuk persegi. Tubuh candinya cukup tinggi dengan atap yang tidak utuh akibat kerusakan alami dan waktu.

Pada bagian kaki candi, terdapat tangga batu yang mengarah ke pintu masuk yang menghadap ke arah barat. Relief-relief bagian tubuh candi menampilkan berbagai simbol dan dewa-dewi dari kepercayaan Hindu-Buddha. Beberapa arca dewa seperti Durga Mahisasuramardini (dewi pembasmi raksasa kerbau), Ganesha (dewa ilmu pengetahuan), dan Agastya (pertapa suci) menghiasi sisi-sisi candi.

Fungsi Religius dan Filosofi Simbolik Candi Singosari

Selain sebagai tempat penghormatan bagi Kertanegara, Candi Singosari juga mencerminkan sinkretisme agama Hindu dan Budha yang berkembang pada masa itu. Raja Kertanegara terkenal sebagai penganut ajaran Buddha Tantrayana, namun tetap memadukan unsur-unsur Siwaisme dalam keyakinannya.

Hal ini tampak dalam banyaknya simbol Siwaisme seperti arca Mahakala dan Nandiswara, serta keberadaan lingga-yoni sebagai simbol kesatuan kosmik pria dan wanita dalam ajaran Hindu. Di sisi lain, ada pula arca Dhyani Buddha dan simbol ajaran Buddha Mahayana yang memperlihatkan toleransi dan integrasi spiritual yang khas dari era Singhasari.

Fungsi candi bukan hanya sebagai monumen keagamaan, tetapi juga sebagai media legitimasi politik. Dalam tradisi Jawa Kuno, mendirikan candi sebagai tempat pemujaan leluhur atau raja merupakan tindakan suci untuk melanggengkan kekuasaan dan warisan dinasti. Candi menjadi penghubung antara dunia manusia dengan dunia roh dan para dewa.

Penemuan dan Penelitian Arkeologis Terkait Candi Singosari

Candi Singosari pertama kali terkenal oleh masyarakat modern pada abad ke-18, ketika Belanda mulai mengeksplorasi peninggalan kuno di Nusantara. Pada abad ke-19, beberapa peneliti dan arkeolog dari Belanda mulai melakukan dokumentasi dan penelitian terhadap candi ini.

Sejak saat itu, Candi Singosari menjadi objek kajian arkeologi yang penting. Penemuan beberapa arca raksasa sekitar kawasan candi semakin memperkuat asumsi bahwa area ini dulunya merupakan pusat pemerintahan atau tempat suci yang besar dan sakral.

Hingga kini, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur terus melakukan upaya pelestarian, perawatan, dan promosi terhadap Candi Singosari sebagai bagian dari warisan budaya nasional.

Keruntuhan Singhasari dan Lahirnya Kerajaan Majapahit

Pada tahun 1292, Jayakatwang dari Kediri menyerang Singhasari dan berhasil membunuh Kertanegara di istananya. Peristiwa ini menandai runtuhnya Singhasari. Namun, tak lama setelah itu, Raden Wijaya—menantu Kertanegara, berhasil melarikan diri dan kelak mendirikan Kerajaan Majapahit pada 1293.

Dalam banyak catatan, termasuk Nagarakretagama, Majapahit mengakui warisan spiritual dan politik Singhasari sebagai leluhur kerajaan mereka. Candi Singosari pun dianggap sebagai bagian penting dari silsilah kekuasaan itu.

Itulah informasi seputar sejarah Candi Singosari yang bisa Anda ketahui. Candi ini bukan sekadar tumpukan batu tua. Tetapi, simbol kejayaan masa lalu, refleksi dari kearifan spiritual dan bukti harmonisasi antara dua keyakinan besar yang pernah hidup berdampingan di bumi Jawa.

Melalui candi ini, kita bisa belajar bahwa kejayaan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tentang budaya, nilai, dan warisan yang bisa dikenang sepanjang masa. Jangan ragu untuk mengunjunginya jika Anda pergi ke Malang karena setiap batu di sana menyimpan kisah yang menunggu untuk diceritakan kembali.

Categories: Sejarah